Jumat, 12 September 2014

Mengenal Jenis Kertas Photo


Banyak sekali jenis kertas yang bisa kita gunakan sebagai media print out pola papercraft. Seperti HVS, WF paper (bisa disebut kertas buku gambar), Inkjet paper, Briefcard / BC, Photopaper, Jasmine, StarDream, & Art Karton/Paper. Untuk photo paper terdapat beberapa jenis seperti canvas, gliter, silky, doft, dan yang paling banyak digukanan adalah glossy. Karena ketidak tahuan kita, kadang kita asal beli tanpa tau jenis, dan karakteristiknya. Untuk itu penting buat kita untuk mengetahui jenis dan karakteristik berbagai macam kertas foto agar tidak salah dalam pemilihan kertas foto untuk papercraft. Sehingga hasil karya papercraft kita bisa maksimal.

Berikut akan saya jelaskan jenis-jenis kertas photo:

1.         Photo paper glossy
Kertas jenis ini yang paling banyak diperjual-belikan, entah apa alsannya. Apa karena murah atau karena tidak tau buat apa yang penting kertas photo. Dilihat dari fisiknya kertas ini  terlihat mengkilap dan jika dipegang terasa keset. Ukuran kertas mulai dari 120 gsm-240 gsm, hasil print out pun lumayan bagus. Kelemahan dari kertas ini jika disimpan di tempat terbuka warnanya menjadi pudar/kusam. Untuk itu jika ingin hasilnya lebih bagus lagi tambahkan laminating dingin atau kita sering menyebutnya laminasi (pelapis tambahan). Naum hasil photo kita akan terlihat redup.
Kisaran harga Rp 13.000 - Rp 25.000 /20 lbr

2.        Photo paper canvas
Kertas ini sangat mahal, sesuai dengan namanya kertas ini memiliki texture yang sama dengan canvas lukisan (tergantung merk), jika dipegang terasa kasar bergaris, hasil print out pun sangat bagus apa lagi jika print out kita lukisan (bukan photo). Daya serap tinta juga cepat kering. Biasanya kertas ini sangat susah didapatkan, untuk masalah ketebalan paling tipis antara 180 gsm. Masalah ketahanan warna juga lebih tahan lama daripada glossy.
Kisaran harga Rp 35.000 - Rp 75.000 /20 lbr

3.        Photo paper gliter
Tidak beda dengan glossy namun memiliki keunikan, kertas gliter bisanya memiliki parian kertas bergambar bling-bling, ada yang seperti bintang, love. Dll. Jadi jika kita print out photo maka di photo kita ada gambar bling-bling seperti hologram. Untuk masalah ketahanan juga sama dengan glossy.
Kisaran harga Rp 20.000 - Rp 40.000 /20 lbr

4.        Photo paper silky
Jika kita sering mencetak foto di tempat bagus misal di fuji film , pasti kita tahu bagai mana kualitas kertasnya. Bagus dan betekstur seperti kulit jeruk. Untungnya kita juga bisa ko buat pritn out kita berbahan dan bertekstur sama dengan fuji film, coba gunakan photo paper silky. Jenis kertas photo ini yang paling banyak digunakan oleh industri percetakan kecil agar kualitas kertas bagus. Rekomendasi dari saya gunakan kertas ini meski kita hanya pakai printer biasa.
Kisaran harga Rp 35.000 - Rp 100.000 /20 lbr

5.        Photo paper doft
Tidak beda dengan jenis silky, jenis doft juga memiliki tekstur seperti kulit jeruk, yang membedakan adalah kualitas warna akan terlihat lebih gelap, karena pengaruh bahan doft. Sama halnya dengan kita mencetak dengan kertas glossy dan dilapisi laminasi, warnanya akan terlihat redup
Kisaran harga Rp 20.000 - Rp 40.000 /20 lbr

6.        Ink jet paper
Ini adalah varian kertas biasa/tidak termasuk kertas photo yang mempunyai ketebalan yang cukup besar antara 120 gsm – 240 gsm. Yang membedakan kertas biasa dengan ink jet paper adalah hasil print out tidak akan luntur/pudar jika terkena air, anda celupkan kedalam air pun tidak akan pudar warnanya. Berbeda dengan kertas bisa, setetes air pun akan memudarkan warnanya. Kualitas warna yang dihasilkannya pun sangat tajam seperti photo paper. Cocok digunakan untuk membuat poster, cover buku.
Kisaran harga Rp 18.000 - Rp 35.000 /100 lbr

7.        Stiker matte
Bahan stiker mate sama dengan bahan kertas photo glossy yang beda adalah dibelakang kertas tersebut terdapat lapisan lagi seperti stiker kebanyakan. Jadi bagi kalian yang ingin membuat siteker sendiri bisa menggunakan kertas ini dipadukan dengan laminasi. 
Kisaran harga Rp 13.000 - Rp 25.000 /20 lbr

Jumat, 05 September 2014

Perbedaan Tinta Dye Dengan Tinta Pigment

Source : Blue Print

Time To "Did You Khow"

 
TINTA DYE
  1. Waterbase, bahan tinta homogen di air. Masih bisa larut walau sdh kering. Sifat setara dengan bubur. Bila printhead buntu, lebih mudah di bersihkan.
  2. Standing time lebih tahan lama, biasanya bisa 5-7 hari.
  3. Di photo paper: cetakan mengkilat, tinta menyatu dengan coating kertas photo, gambar tahan air, warna cerah tapi daya tahan tergantung tempat penyimpanan.
  4. Di kertas HVS: Cetakan tidak tahan air, sisi hitam dan warna bisa saling beleberan.

TINTA PIGMENT
  1. Solidsbase, bahan tinta bebatuan yang mengapung di air. Tidak larut kalo sudah kering. Sifat setara adukan semen. Bila printhead buntu, susah untuk dibersihkan.
  2. Standing time tahan lebih pendek, biasanya 3-5 hr.
  3. Di photo paper: cetakan tidak mengkilat(doff), tinta tidak mengikat sempurna ke coating, gambar gampang tergores/luntur, warna kurang cerah tapi tahan lama.
  4. Di kertas HVS: Cetakan tahan air, batas sisi hitam dan warna tegas.

Jumat, 29 Agustus 2014

Perbedaan Warna RGB Dan CMYK


Written by Rauf Raphanus

Dear teman-temanku yang kreatif.
Berhubung ada yang sempat bingung mengenai warna, kali ini oom Rauf akan ngebahas sedikit tentang warna yang biasa dipakai untuk desain papercraft. Ini khusus untuk papercraft ya, bukan untuk printing separasi ya.

Perbedaan warna RGB dan CMYK.
RGB adalah warna yang kita lihat di layar monitor komputer, terdiri dari warna pixel Merah, Hijau dan Biru. Sedangkan CMYK adalah warna yang digunakan untuk cetakan (print), terdiri dari pigmen warna Cyan, Magenta, Yellow, dan black. Biasanya RGB lebih cerah daripada CMYK yang lebih gelap.

Kadang apa yang kita lihat di monitor dan yang dicetak berbeda warnanya, ini karena setting file (biasanya JPG) di RGB sedangkan saat cetak, printer 'membaca' nya agak miss.

Jalan keluarnya ada beberapa.
Jika kamu desainer papercraft, gunakan setting warna CMYK saat export file. Disarankan export ke PDF agar warnanya bisa keliatan less-missed dari layar monitor ke cetakan. Selain itu, jika pakai corel atau photoshop, usahakan sudah disetting dari awal untuk pakai warna CMYK agar ga miss saat export ke file.

Jika kamu builder dan punya file papercraft (biasanya jpg atau pdo), setting manual di properties printernya. Emang tiap printer beda2 sih. Tapi sebagian besar bisa di set ke CMYK. Nah, yang ribetnya, kalo kamu ga puas dengan warna yang keluar, di setting printer tersebut ada setting manualnya. Memang harus cetak beberapa kali untuk sampai ke settingan yang paling oke, tapi nanti bisa di save sebagai best setting untuk cetak.

Semoga sedikit membantu buat teman-teman ya. Jika ada yang mau tambahin, monggo ya.

Jumat, 22 Agustus 2014

10 Step How To Desain Your Own Papercraft

Written by Resstrick Ya Alvi

10 step how to desain your own papercraft:
  1. Punya aplikasi yang bisa buat model 3 dimensi, seperti : adobe maya, metaseq, google sketchup, adobe 3d max, blender, autocad, dan lain sebagainya.
  2. Punya keahlian menggunakan salah 1 dari nama-nama aplikasi yang saya disebutkan diatas.
  3. Paham dan mengerti seluk beluk pembuatan pola 3 dimensi untuk papercraft (3d papercraft dan 3d modeling sama namun berbeda).
  4. Memiliki aplikasi pepakura designer untuk memecah pola 3 dimensi yang sudah dibuat (bila proses modeling sudah selesai).
  5. Semangat untuk merapikan pola setelah proses unfold (model 3 dimensi yang di unfold tidak pernah sama seperti pola yang biasa diliat di pola siap print, hasil unfold bisa sangat bikin BT dan patah semangat).
  6. Memiliki aplikasi untuk pewarnaan pola, seperti : coreldraw, photoshop, ms paint, dan aplikasi lainya yang sefungsi. (proses ini bisa gak ada kalo kamu bisa pewarnaan langsung saat pembuatan 3dimensinya) (step ini bisa dilewati).
  7. Seperti point no. 2.
  8. Memliki printer untuk mencetak pola yang telah diunfold (step ini bisa dilewati juga).
  9. Semangat tes build sendiri atau minta teman yang mau test build pola buatanmu yang udah siap cetak.
  10. Setelah test build, cek eror pada papercraft hasil, selesai.
Tambahan
Setelah cek error pola pada test build, edit ulang pola yang sudah jadi baik itu di 3D nya maupun pada vector nya. Setelah itu test build kembali....kalau di rasa pola sudah sesuai dengan keinginan maka segeralah membuat instruksi.

Tips
Untuk nomer lima, hide/sembunyikan dulu semua flap nya. Akan bikin hidup lebih mudah. Kumpulkan part terdekat di 3d dalam 1 halaman, misal bikin robot maka kumpulkan part kepala, leher, bahu, dst. Konsen pada 1 halaman. Ambil kertas a4 lalu zoom halaman pepakura sampai seukuran a4 asli. Cek jika ada part dengan lebar di bawah 2 mm, maka part itu perlu direvisi karena akan sulit dirakit. Keep it simple if you can.

Jumat, 15 Agustus 2014

Homemade Cardboard Honeycomb Bookshelf

Source vickyadrian & karl17

Pengen rak buku keren bentuk honeycomb seperti ini ?


Sebetulnya caranya gampang, hanya menggunakan barang bekas yaitu kardus. Kira-kira kuat untuk menopang beban 5-10 kg.

Step 1: Prepare The Tools



1.      Cutter
2.     Pensil
3.     Penggaris stainless steel
4.     Insulating tape
5.     Lem kayu/fox (dicampur air dengan perbandingannya air:lem = 1:3)
6.     Kuas (untuk mengoleskan lem)
7.     Cat/piloks
8.     Kardus

Jumat, 18 Juli 2014

Menjadi Seorang Test Builder Yang Baik dan Benar


Written by Ardiansyah Ardan

Untuk seorang designer papercraft agar mendapatkan hasil karya yang bagus dan dapat diterima dengan baik oleh para builder atau perakit, maka diharapkan melibatkan seorang Test Builder dalam tahap akhir proses design paper model.

Dalam pengertian umum Test Builder berarti seseorang yang ditunjuk langsung oleh designer papercraft unbtuk merakit designnya sebelum dipublikasikan kepada masyarakat umum. Diharapkan dari seorang Test Builder akan memberikan kritik dan saran agar hasil karya designer tersebut lebih rapi dan dapat diterima lebih baik untuk para builder nantinya.

Jumat, 11 Juli 2014

3Ds Max Tutorial from Beginner to Master



Written by Haryanto Chandra

3Ds Max Tutorial - 1 - Introduction to the Interface

3Ds Max Tutorial - 2 - The Viewport

3Ds Max Tutorial - 3 - More Views and Merging

3Ds Max Tutorial - 4 - Creating Basic Objects

3Ds Max Tutorial - 5 - Binding Objects

3Ds Max Tutorial - 6 - Advanced Selections

3Ds Max Tutorial - 7 - Hide, Freeze, and Layers

3Ds Max Tutorial - 8 - Cloning and Arrays

3Ds Max Tutorial - 9 - Grouping and Linking

3Ds Max Tutorial - 10 - Sub Objects

3Ds Max Tutorial - 11 - Modifiers

3Ds Max Tutorial - 12 - Shapes and Splines

3Ds Max Tutorial - 13 - Extrude Splines

3Ds Max Tutorial - 14 - Editable Polygons

3Ds Max Tutorial - 15 - Material Editor

3Ds Max Tutorial - 16 - More on Materials and Maps

3Ds Max Tutorial - 17 - Applying Maps

3Ds Max Tutorial - 18 - Compound Materials

3Ds Max Tutorial - 19 - Cameras

3Ds Max Tutorial - 20 - Lights

3Ds Max Tutorial - 21 - Animation

Catatan :
Yang paling penting untuk desain papercraft adalah tutorial No: 1-6,12,14,15,17,18 lainnya ga perlu.