Jumat, 05 Desember 2014
Jumat, 28 November 2014
Step/Logika Unfolding di Pepakura Designer
Dari
pengalaman saya, begini step/logika dalam unfolding di Pepakura Designer:
1.
Pastikan ukuran 3d model sudah sesuai
dengan ukuran paper model yang kita inginkan, misal kita ingin tinggi 60 cm,
maka sudah diukur benar. Lalu pastikan scale di Pepakura adalah 1.0
2.
Atau kita bisa atur ukuran paper model di
Pepakura Designer, caranya : Open file 3d di pepakura lalu klik unfold (auto).
Lalu terlihat ukuran model jadi di bawah kanan. H itu tinggi, W itu Lebar, D
itu panjang, semua dalam mm. Lalu bisa kita ubah scalenya di "Change Scale
of Development", ubah2 persenan sampai ukuran sesuai yang kita inginkan.
3.
Sembunyikan semua flap (matikan Show Flap)
4.
Ambil kertas A4, lalu zoom monitor sampai
ukuran pinggir kertas di monitor sama dengan ukuran kertas A4 asli tadi. Lalu
periksa semua bagian apakah ada parts yang lebih kecil atau sama dengan 2 mm,
jika ada, maka batalkan unfold dan balik lagi ke 3D. Lalu edit bagian yang
terlalu kecil tersebut.
5.
Balik lagi ke Pepakura ulangi step
sebelumnya. Gunakan Join/Disjoin Face untuk mengedit part yang berantakan.
Sisihkan bagian yang belum kita edit di bagian bawah, agar kita bisa fokus.
6.
Gunakan Rotate Part untuk memutar part agar
lurus/rapi
7.
Gunakan pedoman simetris sebisa mungkin
dalam mengatur "bukaan" tiap bagian, kecuali part memang tidak bisa
simetris. Contoh unfold kubus/balok, bukaan part harus tegak lurus (di rotate)
dan kalo kita lihat dari atas, bagian kiri dan kanan pada kubus/balok itu
sebisa mungkin sama atau mendekati.
8.
Dalam mengatur bukaan sebaiknya kita
membayangkan kita sedang merakit bagian itu, apakah mudah, apakah sulit ataukah
ada cara yang lebih efisien, untuk bisa melakukan itu dengan lancar perlu
latihan.
9.
Layout / susun semua bukaan part dengan
rapi.
10. Hidupkan
kembali flap, jangan kaget pasti akan kelihatan berantakan lagi.
11. Atur
besarnya flap secara seragam.
12. Edit /
switch letak flap dengan teratur. Ingat pedoman simetris. Lebih enak memotong
flap2 yang berjejer lurus dibanding memotong flap yang acak. Contoh pada bentuk
silinder. Defaultnya pepakura akan menaruh flap di bagian yang bundar, padahal
sulit bagi kita memotongnya, pindahkan flap ke bagian sisi tegak silinder,
biarkan bagian yang bundar tanpa flap.
13. Jika
merasa lelah/ pusing terlalu banyak part yang di unfold, pada next model coba
unfold per bagian, misal bikin robot, unfold bagian kepala dulu baru kemudian
badan dan seterusnya.
Jumat, 21 November 2014
Trik Battle Damage Sederhana
Trick
battle damage sederhana
Alat yang
digunakan :
1. Pensil 2B
2. Pensil
mekanik
3. Marker
silver (bisa diganti dengan spidol warna abu-abu, cat air warna abu-abu, atau
jenis cat lainnya)
Langkah-langkahnya
:
1. Cari
referensi atau gunakan imajinasi, untuk letak yang akan diberi efek damage
2. ujung
lipatan di marking pensil 2B
3. Efek
retak menggunakan pensil mekanik lalu dipertegas/dilarsir menggunakan pensil 2B
4. Efek
damage cat terkelupas memakai marker silver lalu dilarsir dengan pensil2B
Selamat
mencoba !!!
Jumat, 14 November 2014
Jumat, 07 November 2014
Taking Pictures Of Your Model Kits
Written
by George Collazo
OK, so you have been working
long hours on that model and finally you can declare it, finished! No comes the
part that I’ve seen many times. A photo session of your finished model kit (or
work in progress for that matter) where not a hint of justice is made to your
hard work. Due to the nature of my work, I have the proper equipment for high
quality pictures of my finished model kits. Now, don’t think that every model
is glamorized in my studio. 99% of the pictures here are taken on a simple set
up and you can too!
First let me say that you
don’t need the latest and the greatest DSLR camera to get good pictures of your
finished model kits. First thing first, you need a background. I’ve seen plenty
of model kits being photographed with all the clutter of the workbench on the
background and a less than clean cutting board. That in my opinion is OK if
your showing your work in progress. But please, do your model and yourself a
favor, don’t take the pictures of your finished model under such circumstances.
Flash: Whatever you do
amigo, don’t point your point and shoot camera with the flash ON onto your
model. It washes out the colors and your hard weathering work. So using a
direct flash on your models is a big no-no.
Background: Lets see the
first big circle picture below. It is quite self explanatory. The measurements are there but feel free to
use yours. That’s 1/2” PVC pipe from the hardware store. You won’t need to glue
the pipes, in fact, use them without glue and when you’re done, it’ll be easy
to store it because you’ll be able to break it down. I did not spend more than
$12 and that included the paper. The paper can be found in the post cards and
gift bags section in your mega store.
If you are using a regular
point and shoot camera, your light source can be obtained with 2 of those cheap
table top lamps from the mega store. One lamp on each side will help minimeze
harsh shadows.
There are also table top
mini tripods. You’re going to need one, because your exposure will be longer
than usual and chances are that you will get camera shake resulting in blurry
pictures. Frame your picture and use your camera’s self-timer for razor sharp pictures.
All of the above applies if
you own a DSLR. However if you have a flash for your DSLR, you can skip the
table top lamps. A white painted ceiling (if you have it) is your best friend.
Point your flash up instead of to the front and the light will bounce down
beautifully.
I hope this is of some help
to our fellow model builders.
Tambahan dari Om Faikar Izzani
Intinya menurut saya begini
:
- Cahaya harus bagus (minim 2 lampu, kiri-kanan, kalau kurang tambahin satu lagi dari atas).
- Background rata, warna disarankan putih atau kalau mau ngga ada ilusi perubahan warna, desainer grafis biasanya naruh background dengan warna 50% gray.
- Sebisa mungkin pakai tripod (kan ada tuh gorillapod atau apa itu namanya yang cuilik hehe). Atau pas mau motret, nahan nafas sejenak kayak sniper, karena memang ada efeknya
- Pegang kamera pakai 2 tangan, dan diposisikan supaya jadi penahan
Jumat, 24 Oktober 2014
Hak Cipta Pola Papercraft Menggunakan Creative Commons
Written by : Rauf Raphanus
Tergerak oleh kejadian
akhir-akhir ini yang berkaitan dengan pembajakan dan penyebarluasan desain
papercraft tanpa izin desainer asli, terutama dari Indonesia sendiri, diriku
menghimbau agar teman-teman mulai mencantumkan Hak Cipta pada setiap karya yang
dipublish.
Hak cipta pada dasarnya
dapat didapat dengan mengisi formulir dan melakukan serangkaian prosedur dari
pemerintah Republik Indonesia. Namun buat teman-teman yang cukup produktif
menciptakan pattern papercraft, mungkin dapat mencoba Creative Commons (CC). CC
merupakan hak cipta yang juga diakui oleh Undang-undang di Indonesia. http://creativecommons.or.id/
Pencantuman Hak Cipta
ini cukup penting karena dapat menjadi bahasa universal yang menunjukkan bahwa
sebuah karya (Papercraft) dapat secara bebas didownload namun tidak untuk
digunakan dalam hal komersil (dijual atau dibuat iklan) tanpa seizin desainer.
Jika teman-teman buka
situsnya, ada beberapa pilihan Creative Common yang dapat dicantumkan di
halaman pola papercraft. Nah, pilihan yang disarankan untuk papercraft adalah :
Yang berarti :
BY - Pengguna (downloader/perakit)
wajib untuk mencantumkan nama pemegang hak cipta (desainer) ketika dirakit atau
foto. Simbol BY maksudnya adalah kata 'by' yang berarti 'oleh'.
NC - Non Commercial.
Papercraft dapat di-download, di-copy, di-share, dipamerkan, dan dipertunjukkan,
namun Tidak untuk tujuan komersil (jual / sewa / diletakkan di iklan) tanpa mendapatkan
izin dari desainer.
SA - Share Alike.
Berbagi Serupa. Maksudnya pattern Papercraft dapat di-modif dan di-share,
dipamerkan, dipertunjukkan, dibawah lisensi CC yang sama. Nama desainer tetap
dicantumkan.
Baca lebih lanjut di
sini : http://id.scribd.com/doc/74737104/selebaran-creative-commons-bahasa-indonesia
Langganan:
Postingan (Atom)




























