Jumat, 04 Juli 2014

Logika Cara Desain Pola Papercraft



Sebelum mulai membuat desain papercraft sendiri sebaiknya harus paham terlebih dahulu bagaimana logika 2D ke 3D. Caranya mudah sekali yaitu banyak-banyak merakit papercraft. Setelah logikanya dapat dipahami, barulah mulai untuk membuat desain Papercraft sendiri.

Berikut adalah beberapa tahapan dalam mendesain sebuah 3D papercraft :

Diagram Alir Logika Mendesain Papercraft
Ide

Tentukan jenis papercraft yang akan di desain apakah Pepakura, Papertoy, Paper Automata ataukah Paper Model. Untuk keterangan lebih jelas tentang jenis papercraft bisa di lihat di postingan sebelumnya di sini. Untuk desainer papercraft pemula apalagi yang baru pertama kali menggunakan software 3D, disarankan untuk mendesain papercraft jenis Papertoy. Kenapa Papertoy? Karena Papertoy memiliki bentuk model yang paling simple dari jenis papercraft yang lain. Untuk idenya terserah desainer mau membuat papercraft yang seperti apa. Gunakan imajinasi anda!!! ^-^

Perencanaan
Pada tahapan ini, seorang designer harus melakukan riset tentang model yang akan dibuat sebagai persiapan membuat model 3D. Apabila modelnya adalah sebuah replika, maka carilah blueprint dari benda yang ingin dibuat replikanya Jika tidak ada blueprint, sebagai pengganti blueprint, bisa menggunakan foto yang di ambil dari berbagai sudut. Jangan lupa tentukan skala model yang akan dibuat. Skala yang umum digunakan adalah 1:100, 1:60, 1:43, 1:35, 1:25, dan 1:1.

Apabila model yang akan dibuat adalah papertoy, maka tentukan tema dari skin papertoy yang akan dibuat, misal bila temanya adalah kemerdekaan RI, mungkin skin yang digunakan lebih ke permainan warna merah dan putih, dan lain-lain.

Membuat Model 3D
Membuat model 3D dapat menggunakan software 3D, seperti Metasequoia, Sketch Up, Blender, 3D Max, AutoCAD, dll dengan berpatokan pada blueprint atau foto. Pemberian warna/tekstur juga dapat dilakukan pada tahap ini. Gunakan foto untuk membuat tekstur atau dapat menggunakan program grafis seperti CorelDraw, Inkscape, Photoshop, dan Gimp.

Google Sketch Up adalah aplikasi 3D model designer buatan Google, awalnya digunakan untuk membuat model-model 3D yang dapat di upload oleh user ke layanan Google Earth. software ini disarankan bagi pengguna yang ingin belajar mendesain 3D karena aplikasinya yang cukup mudah dimengerti dan tutorialnya pun sangat banyak di YouTube ataupun di situs-situs lain.

Metasequoia (*.mqo) bisa dikatakan lebih recommended untuk membuat model 3D yang akan digunakan untuk papercraft karena tingkat kompatibilitasnya dengan Pepakura Designer yang paling tinggi dibandingkan dengan software 3D yang lain. Selain itu versi gratisnya juga ada.

Ada pula beberapa designer yang menggunakan cara modelling langsung, atau biasa dikenal dengan sebutan "Scratch Build" (SB), pada metode ini, modelling dilakukan dengan membuat sketsa parts secara manual mengandalkan imajinasi, kalkulasi geometri, dan ketepatan penggambaran dengan berpatokan pada blueprint yang sebelumnya telah di print sesuai skala yang kita mau. Bisa menggunakan gabungan geometri-goemetri sederhana misalnya untuk membuat badan pesawat, gunakan tabung, kerucut dan balok.

Unfold File 3D
Untuk menguraian model menjadi pola (unfold), digunakan software khusus yaitu Pepakura Designer. Pepakura Designer adalah sebuah software "ajaib" yang dapat memecah (unfold) sebuah model 3D menjadi parts papercraft lengkap dengan flaps dan folding line nya. Software ini juga memiliki fitur untuk mengubah ukuran dan bentuk flaps, mengubah ukuran model, dll.

Format file 3D yang bisa dibuka dengan Pepakura Designer antara lain :
1.      Metasequoia (mqo) (Recommended: Highest compatibility, Free version available.)
2.     Wavefront (obj)
3.     AutoCAD 3D (dxf)
4.     3DS Max (3ds)
5.     Lightwave (lwo)
6.     Binary/ASCII STL (stl)
7.     Google Earth4 (kml, kmz)
8.     Collada (dae)

Format file 3D default Sketch Up (*.skp) tidak bisa dibuka dengan Pepakura Designer, namun pada Sketch Up ada opsi export file 3D. Sehingga bisa disimpan dalam berbagai format file 3D lain yang kompatibel dengan Pepakura Designer. Jadi bagi pemula yang baru belajar mendesain 3D menggunakan Sketch Up tidak perlu khawatir.

Jika menggunakan teknik modelling langsung (Scratch Build/SB), bongkar model prototype dan trace ulang polanya di kertas lain, dapat dirapikan di software grafis seperti CorelDraw, Adobe Illustrator, Freehand, dll

Test Print Dan Test Build
Tahap selanjutnya setelah selesai mendesain adalah melakukan test print dan test build. File 3D yang sudah selesai di unfold menjadi pola papercraft akan tersimpan dalam format PDO yang bisa dibuka dan di print langsung dengan menggunakan Pepakura Designer atau bisa juga dengan Pepakura Viewer.

Tujuan dari test print adalah untuk melihat apakah pengaturan penempatan pola pada kertas sudah baik atau belum dan apakah sudah efektif dalam penggunaan ruang kosong pada kertas sehingga nantinya tidak boros dalam penggunaan kertas. Perhatikan apakah ada pola yang terpotong, jika ada  berarti ada pola yang penempatannya melebihi batas margin kertas.

Sedangkan tujuan test build yaitu untuk menguji apakah model yang telah dibuat bisa dirakit dengan mudah atau tidak . Bisa juga untuk menentukan label tingkat kesulitan perakitan pola apakah easy, medium, atau hard jika nanti pola akan di share atau di jual.  Dalam melakukan test build, seorang designer dapat melakukan test build sendiri atau meminta bantuan kepada orang lain.

Convert File PDO ke PDF dan Buat Instruksi Perakitan
Jika sudah puas dengan hasil tes build, saatnya mengubah file PDO menjadi file PDF sekalian buat instruksi perakitan yang mudah untuk dimengerti, bisa dalam bentuk PDF juga atau dalam bentuk gambar JPEG. Kenapa File PDO harus diubah menjadi PDF? Kenapa juga harus dibuat instruksi perakitannya? Padahal dari file PDO bisa langsung di print dan di dalam file PDO juga sudah ada keterangan penempelan bagian part-partnya, jadi seharusnya tidak perlu lagi untuk membuat instruksi perakitannya.

Jawaban dari kedua pertanyaan tersebut di atas ada hubungannya dengan tahap selanjutnya (share or sell). Yaitu karena file PDF/JPEG lebih mudah diakses oleh kebanyakan orang dari pada file PDO terutama bagi orang yang masih awam di dunia papercraft ataupun papercraft builder pemula. File PDF lebih familiar bagi kebanyakan orang karena merupakan format file yang umum digunakan untuk menyimpan dokumen, dan JPEG  merupakan format umum dalam penyimpanan gambar. File PDO, bisa dikatakan hanya sebagian orang yang tahu (para papercrafter dan desainer papercraft). File PDO hanya bisa dibuka dengan Pepakura Designer/Viewer. Sedangkan file PDF/JPEG bisa dibuka dengan berbagai program komputer seperti Adobe Reader, Foxit Reader, ACDsee, Irfan Viewer, dan masih banyak lagi,  yang pastinya sudah ada di setiap pc/laptop yang mereka miliki.

Sell or Share
Entah mau di jual atau dibagikan itu terserah desainernya, yang jelas ada satu hal yang perlu diperhatikan yaitu pencantuman Hak Cipta pada karya papercraft yang akan dipublish. Atau minimal cantumkan nama desainer pada pola papercraft. Tujuannya adalah agar desain pola papercraft yang akan dipublish nantinya tidak akan di bajak oleh orang yang tidak bertanggung jawab. Misalnya di akui oleh orang lain sebagai desainnya sendiri atau lebih p[arahnya lagi di jual tanpa seizin dan sepengetahuan desainer aslinya.

Untuk lebih jelas tentang Hak Cipta lihat kutipan dari postingan Om Rauf Raphanus di Facebook Grup Peri di bawah ini :

“Tergerak oleh kejadian akhir-akhir ini yang berkaitan dengan pembajakan dan penyebarluasan desain papercraft tanpa izin desainer asli, terutama dari Indonesia sendiri, diriku menghimbau agar teman-teman mulai mencantumkan Hak Cipta pada setiap karya yang dipublish.

Hak cipta pada dasarnya dapat didapat dengan mengisi formulir dan melakukan serangkaian prosedur dari pemerintah Republik Indonesia. Namun buat teman-teman yang cukup produktif menciptakan pattern papercraft, mungkin dapat mencoba Creative Commons (CC). CC merupakan hak cipta yang juga diakui oleh Undang-undang di Indonesia. http://creativecommons.or.id/

Pencantuman Hak Cipta ini cukup penting karena dapat menjadi bahasa universal yang menunjukkan bahwa sebuah karya (Papercraft) dapat secara bebas didownload namun tidak untuk digunakan dalam hal komersil (dijual atau dibuat iklan) tanpa seizin desainer.

Jika teman-teman buka situsnya, ada beberapa pilihan Creative Common yang dapat dicantumkan di halaman pola papercraft. Nah, pilihan yang disarankan untuk papercraft adalah :

CC BY-NC-SA (Attribution Non-Commercial Share Alike)

Yang berarti :
BY - Pengguna (downloader/perakit) wajib untuk mencantumkan nama pemegang hak cipta (desainer) ketika dirakit atau foto. Simbol BY maksudnya adalah kata 'by' yang berarti 'oleh'.
NC - Non Commercial. Papercraft dapat di-download, di-copy, di-share, dipamerkan, dan dipertunjukkan, namun Tidak untuk tujuan komersil (jual / sewa / diletakkan di iklan) tanpa mendapatkan izin dari desainer.
SA - Share Alike. Berbagi Serupa. Maksudnya pattern Papercraft dapat di-modif dan di-share, dipamerkan, dipertunjukkan, dibawah lisensi CC yang sama. Nama desainer tetap dicantumkan.


Thanks buat Om Rauf sudah mengingatkan.

Selesai
Tinggal nunggu feed back nya. Jika dijual tinggal menunggu pesanan dan rupiah akan mengalir ^-^, jika di bagikan secara gratis tinggal menunggu ucapan terima kasih. Meskipun jika di bagikan secara gratis hanya akan mendapatkan ucapan terima kasih tapi desainer pastinya akan mendapatkan kepuasan batin jika hasil karyanya dihargai oleh orang lain.

Catatan Untuk Coloring/Texturing
Jika modelling dengan software ada 2 macam metode pewarnaan dan pemberian tekstur, yaitu yang dilakukan sebelum di-unfold dan yang dilakukan setelah di-unfold. Aplikasi grafis seperti Corel Draw, Adobe Photoshop, dan Adobe Illustrator digunakan untuk memberikan tekstur berupa gambar pada pola yang sudah dipecah atau pada model sebelum pola dipecah.

Coloring menjadi sangat penting apabila kita membuat sebuah papertoy, karena bagus atau tidaknya papertoy yang kita buat dilihat dari skin dan permainan warna yang digunakan.

Pada metode Scratch Build, bisa menggunakan mix coloring, misal dengan : cat semprot, cat poster, cat akrilik, airbrush, cat air, spidol, sticker dll

Penutup
Di atas adalah langkah garis besar logika mendesain pola papercraft dengan sedikit penjelasan. Untuk mempelajari cara-cara mendesain 3D papercraft lebih mendalam lagi, silakan googling tutorialnya atau mencari video tutorial di Youtube.

Happy Papercrafting

Tidak ada komentar:

Posting Komentar